Pada puncak sebuah rindu, disinilah kami ya rasulullah


Pada sebuah rindu, disinilah kami ya rasulullah, menanti setiap hari untuk dapat bertemu denganmu. Kelak Allah SWT akan memberikan karunia kepadamu berupa telaga al kauts, yang dari telaga itu engkau beri minum kami dan setelahnya tak akan pernah kami merasa haus selama di padang mahsyar. Ya Rasulullah, inilah sedikit rindu kami..

Saya akui telat membaca 4 karya tasaro GK pada sebuah novel biografi yang bercerita tentang Rasulullah Muhammad SAW. Ke-empat karya TasaroGK ini sungguh luar biasa, menceritakan perjalanan Nabi dan para sahabat. Buku pertama berjudul “Muhammad Lelaki Penggegam Hujam”, di banyak bagian buku ini sungguh benar-benar menceritakan bagaimana perjuangan Rasul selama menyampaikan wahyu dan islam.

Muhammad – Lelaki Penggegam Hujan

Pada buku pertama ini Tasaro perkenalkan tokoh-tokoh lainnya selain cerita sang nabi. Ada seorang perempuan yang menganut kuat ajaran zardust, dan percaya nubuat agamanya tentang kehadiran seorang pembawa risalah terakhir, seorang Astvat-ereta. Begitu juga dari kaki gunung di tibet seorang anak kecil bertanya kepada ibunya tentang perkataan para biksu yang sedang menantikan kehadiran Phan-chen-rin-po-chhe (permata kebijaksanaan yang agung) sang Budha Maitreya. Disebuah sudut biara di tengah gurun sebelah barat laut merah, salah satu biara sedang menekuni manuskrip kuno peninggalan Nabi Daniel “…ditengah horizon penglihatan itu, yang Mahakekal terlihat ditengah kemilau cahaya dengan roda-rodanya yang juga dari cahaya. Suatu sungai cahaya timbul dan mengalir dari hadapan-Nya. Lalu, dibukalah Majelis Pengadilan dan dibukalah kitab-kitab. Binatang itu dibunuh dan tubuhnya dibinasakan di dalam api” seorang Bar Nasha yang Tuhan sangat memuliakan. Di Lembah Narmada, India, Seorang Guru juga menceritakan hal yang tentang akan hadirnya Malechha Dharma yang akan menguasai india dan pulau-pulau disekitarnya, sembari ia dan pengikutnya adalah orang-orang yang bijak dan pemberani. Dan dari sinilah di Mekkah, Lelaki Mulia ini akan melanjutkan perjalanannya menuju ke Yastrib (Saat ini bernama Madinah) untuk memulai banyak hal besar yang hingga kini menjadi jalan hidup para penduduk bumi, menjadi jalan hidup yang saya pilih.

Muhammad – Lelaki Penggema Hujan

Saya tidak mereview detail dari keempat buku ini, karena akan lebih nikmat jika megarunginya sendiri seolah ikut merasakan bagaimana sebuah kisah diceritakan dengan bahasa yang indah. Pada buku pertama dan kedua buku ini banyak  menceritakan kehidupan Rasulullah dari kecil hingga memimpin umat ini, diceritakan awal bagaimana paman nabi yang dalam perjalanan perdagangan bertemu dengan pendeta bahira, yang pada akhirnya pendeta meminta sang paman untuk mengajak sang Nabi kecil kembali pulang ke Mekkah, seraya dia berkata “saat kalian datang, pohon dan batu menunduk sujud, kedua-duanya tidak akan menunduk kecuali kepada seorang nabi, dan saya juga mengenali tanda nubuat yang ada di pundaknya”.

Tasaro juga ikut mengisahkan seorang pemuda persia yang memperjuangkan ajaran zardust, dan selalu mengkaji nubuat-nubuat di dalam keyakinannya. Lelaki ini menjadi sosok yang mengular indah kisahnya, tasaro berhasil membuat saya memahami bahwa “kashva” bisa jadi adalah kita. Kashva yang digambarkan oleh Tasaro adalah seorang pemuda yang mencoba mendalami keyakinannya, mempercayai nubuat, dan meyakinkan hatinya bahwa semua hal yang akan terjadi pada dirinya kedepan, tak ayal adalah sebuah pencarian “Jalan Pulang”. Pada buku terakhirnya, tasaro menceritakan seorang kashva yang akhirnya menemukan jalan pulangnya. Kematangan hati setelah panjang perjalanan yang dia lalui menjadi alur cerita yang sungguh menakjubkan. Saya tidak berlebihan, saya akui saya suka gaya penulisan tasaro dalam menceritakan kisah Nabi, berikut juga Kashva.

4 Karya Tasaro GK

Akhir Buku Kedua, Buku Ketiga & Keempat Tasaro dalam sisi Rasulullah, Tasaro menceritakan tentang perjuangan Ke-Khalifahan Abu Bakar, Umar, Ustman dan juga Ali bin abi thalib. Selain tentang perjuangan pada sahabat nabi yang melanjutkan tonggak kekalifahan, di ketiga buku terakhir Tasaro menurut saya menggiring kita untuk bisa ikut merasakan bagaiamana tentang kerinduan sebuah hati untuk bertemu Rasulullah Muhammad SAW.

Saya sangat merekomendasikan untuk membaca keempat buku ini, selain karena tulisannya cerita yang tersusun rapi sekali, dari buku ini saya dapat lebih memahami bagaiamana sebuah sirah nabawiah dapat diceritakan dengan sangat ringan dan enak untuk dibaca.

“..jika kisahmu diulang seribu tahun setelah kepergianmu, maka mereka yang mencintaimu akan merasakan kehilangan yang sama dengan para sahabat yang menyaksikan hari terakhirmu, wahai Lelaki yang Cintanya Tak Pernah Berakhir. Mereka membaca kisahmu, ikut tersenyum bersamamu, bersedih karena penderitaanmu, membuncah bangga oleh keberhasilanmu, dan berair mata ketika mendengar kepergianmu. Seolah engkau kemarin ada di sisi, dan esok tiada lagi..”

Ya Rasulullah, di dalam perjanjian akan pertemuan dengan mu, dan atas semua kisahmu yang kami selalu dengar dan patuhi, kami rindu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s