Pendakian ke Gunung Papandayan (kala kabut pagi itu turun)


Langit pagi itu mendung tak berbatas

Dan dingin nya menusuk dalam dalam

 Kau (papandayan) tak terlihat bahkan dari tempat ku berdiri saat ini

Kabut sepertinya kau minta temui kami hari itu

Apalah kami yang hanya pasrah dan mencintai tiap jengkal mu

Karena pagi ini hanya doa yang dapat kami haturkan

Tuhan, semoga kau beri cerah hari esok

13 agustus 2016, pagi yang dingin ini menusuk sampai ke tulang kami. Udara sejuk dengan sedikit gerimis menyambut kedatangan kami di papandayan hari itu. Kami ber-enam akan melakukan perjalanan ke papandayan. Seolah dia tahu kami akan datang, pagi itu dingin sekali seakan dia ingin memberi tahu kepada kami bahwa dia sedang murung.

Sesampainya kami di terminal Guntur, garut. Kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkot. Dan ternyata efek dari pengelolaan gunung papandayan oleh pihak swasta berimbas terhadap naiknya harga transportasi. Transportasi angkot yang dulunya hanya 20 rbu rupiah untuk sampai di kaki gunung papandayan, kemarin menjadi harga 25 ribu rupiah. Setelah diskusi cukup alot dan mencari sekutu dengan teman-teman pendaki lain, akhirnya kami tetap berangkat dengan harga tersebut.

Saya kira hanya angkot saja yang mengalami kenaikan, tidak juga. Ternyata, angkutan pick up untuk naik ke base camp david pun mengalami kenaikan harga. Biasanya kami hanya membayar 15 ribu kemarin naik menjadi 20 ribu rupiah. Jadi total dari terminal guntur garut menuju base camp david per orang terkena biaya 45 ribu rupiah.

Di camp david pun uang pangkal untuk simaksi yang dulunya hanya dengan biaya 15 ribu rupiah kita sudah bisa melakukan pendakian dan camping di papandayan, harga baru yang di tetapkan oleh pengelola swasta ini jauh lebih mahal yaitu sebesar 65ribu rupiah. Perbedaan 50 ribu ini memang belum terasa efeknya, terutama untuk jalan menuju ke camp david. Namun untuk kebutuhan toilet dan keamanan di perjalanan selama pendakian dan di pondok salada mulai rapi. Bahkan sekarang sudah ada tim security di pondok salada, tugas mereka menggantikan ranger gunung papandayan. Tapi saya rasa mereka tidak terlalu dihargai oleh pendaki dibandingkan dengan ranger yang lama. Sepertinya mereka belum ‘ngeh’ betul kondisi papandayan (ini pendapat pribadi).

Jalanan yang berlumpur selama pendakian memberikan pengalaman baru bagi saya yang sebelumnya sudah pernah melakukan pendakian ke papandayan. Jalanan licin, dan karena saat ini saya melewati jalur normal jadi ada suasana pemandangan baru yang saya temui. Pendakian sebelumnya menuju pondok salada saya melalui hutan mati.  Tapi sayang, karena pada saat itu kabut yang ada tidak terlihat pemandangan apa-apa \:D/

Untuk temen-temen yang akan melakukan pendakian ke gunung papandayan, saran saya jangan terlalu membawa barang yang banyak. Apalagi logistik, lebih baik satu botol air minum, snack, dan coklat saya rasa sudah cukup. Karena sepanjang perjalanan temen-temen akan menemui warung yang menjual makanan. Contohnya saja di goberhut, disitu ada warung abah yang jual gorengan, atau ada juga yang jual cilok disana. Kalau mau cobain ada ubi goreng yang enak di warung ibu pojok sebelah kiri. Dari goberhut menuju pondok salada sekitar perjalanan 15 menit. Setelah itu bakalan nemuin penjual makanan lainnya. Ada nasi goreng, mie instan, nasi putih, gorengan, dll. Tapi untuk kebutuhan pribadi silahkan kalau mau bawa nesting, kompor dsb karena akan membantu kalo lagi kedigninan di dalam tenda dan kondisi hujan.

…..grusaakkk gdbug..auw..saya terpeleset di depan pintu tenda. Jika kondisi hujan teman-teman lebih baik berhati-hati. Saya tidak tahu harus mengucap syukur sebanyak apa pada malam itu. Saya jatuh dengan kondisi badan ke arah kanan. Luka di dagu dan sedikit di leher, berdarah iya. Tapi syukurnya sudah kering saat ini. Di dalam tenda malam itu sambil memegang luka gores ini saya membayangkan seandainya saya terjatuh ke arah kiri mungkin potongan ranting pohon yang mengenai dagu saya bisa saja masuk dan menusuk ke dalam leher saya. Saya terus mengucap syukur malam itu, sembari merasakan sedikit perih di bagian leher dan menguyah roti bakar silverqueen yang leleh di mulut😀 . Menu makan malam kami hari itu sangat istimewa, roti sandwich dengan isi scrumble egg dan roti bakar silverqueen membantu paling tidak perih di dagu ini tak terasa terlalu perih, hehee. Jadi untuk teman-teman lebih baik berhati-hati dan klo memang sandal/sepatu yang digunakan sudah tidak layak lebih baik diganti.

Hujan gerimis dan kabut ternyata tak kunjung henti hingga siang hari minggu, setelah cukup makan mie dengan sayur dan telor kami putuskan untuk melakukan perjalanan pulang. Kalau bisa dibilang, kali ini kami tidak berjodoh dengan papandayan. Mungkin lain kali kami harus kembali lagi kesini.

Terimakasih papandayan

Kabut pagi ini indah sekali

Tanah basah berlumpur ini juga memberikan kenangan sendiri untuk kami masing-masing

Dan satu lagi, sampaikan salamku untuk kumpulan edelweiss di tegal alun yang tak sempat kami temui

Mungkin suatu waktu kami akan memelukmu kembali

Papandayan…

kedepan kita akan kembali kesana dan kita jelajahi tegal panjang, hamparan luas dengan beragam habitat yang masih terjaga. Bahkan tidak hanya babi hutan, macan pun masih suka mengaum dan terdengar hingga di tempat perkemahan. see you again papandayan \^.^/

Diketik di meja kantor dengan segelas kopi hitam dari makasar

16 agustus 2016


One thought on “Pendakian ke Gunung Papandayan (kala kabut pagi itu turun)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s