Perjalanan Hati Part ke sekian – Gunung Papandayan


Suntuk dengan kepenatan di Jakarta setelah beberapa minggu kemarin, bosan yang tidak ada habisnya. Pikiran lelah sekali,penat dengan semua rutinitas yang ada. Terus terang melelahkan, setiap hari menikmati kendaraan ibu kota yang setiap waktu ternyata semakin padat. Apalagi ketika waktu hujan tiba, jalanan serasa sesak sekali. Jadi, beruntung lah buat teman-teman semua yang hidup dan mencari nafkah tidak di Ibu Kota. Paling tidak setiap hari kalian masih bisa merasakan nikmatnya waktu pagi kalian, menikmati waktu subuh dan memungkinkan untuk bisa makan pagi bersama keluarga. Sudah ya, kalau saya menceritakan penatnya kota ini sungguh benar-benar melelahkan. Banyak hal yang sering sekali tak kita sangka akan terjadi.

Minggu lalu saya teman-teman memutuskan untuk mencari kegiatan akhir pekan bersama. kegiatan outdoor lebih menyenangkan, dan pilihan nya jatuh untuk melakukan kegiatan pendakian ke Gunung. Gunung yang tidak terlalu tinggi, tapi menyenangkan, pilihan jatuh ke Gunung Papandayan. Letaknya di Garut, perjalanan tak terlalu lama ya sekitar 3 – 4 jam dari Jakarta. Cukup singkat namun sepertinya menyenangkan. Saya berangkat dengan teman-teman yang sudah pernah ke papandayan sebelumnya. Mereka lebih tau medan nya daripada saya, tentu nya mereka jauh lebih hebat dari saya.

Oke fix, perjalanan menuju ke Garut kami lakukan pada malam hari. Kami putuskan berangkat jumat malam dengan harapan kami sampai Garut (kaki gunung) bisa langsung melakukan pendakian dan kami berharap agar tidak bertemu dengan hujan ketika kami melakukan pendakian ke puncak. Oke, semua barang sudah di packing, mantel masuk, masker sudah dipakai, jam tangan dipakai, jaket windbreaker dipasang, seettt angkat keril berangkat isi perut dulu..hahaa

Semua teman-teman membuat perjanjian untuk meeting poin di terminal kampong rambutan, sebenarnya berangkat dari UKI lebih oke sih, karena bis yang dari UKI itu menurut saya pribadi lebih OKE dan lebih “berkelas” daripada yang dari kp.rambutan. meskipun kenyataan nya harga transportasi bis nya sama 52K saja untuk perjalanan dari Jakarta menuju ke Garut. Oke kami bertemu di terminal pukul 23.00, dan blaaarrr ramai sekali di kp.rambutan, tas keril dimana mana, para pendaki dimana mana. Saya kaget, kenapa bisa ramai sekali banyak sekali pendaki disini. Ternyata Terminal Kp. Rambutan selalu ramai tiap akhir pekan dengan para pendaki. Mereka bisa kemana saja dari tempat ini, ada yang ke Garut (Gn. Papandayan, Gn. Cikurai) , Cibodas (Gn. Gede Pangrango), Kuningan (gunung CIremai), dan lainnya.

Seru pikirku waktu itu karena banyak sekali teman yang sama-sama suka pendakian. padahal malam itu gerimis rintik kecil membahasi jalanan ibu kota, tapi seru juga melihat semangat mereka. Taraaaa, bis yang akan kita tumpangi menuju Garut telah tersedia. Kami menaiki bis tersebut dan lagi-lagi di dalam bis banyak sekali anak-anak pecinta alam yang sudah ada di dalamnya. Perjalanan 4 jam kedepan kami lewatkan dengan mata terpejam. Mungkin kami semua lelah setelah seharian ini bekerja di kantor kami masing-masing.

Tiba di garut pukul 04.00 WIB pas dengan waktu subuh tiba, kami langsung naik angkot kecil kearah pertigaan kaki gunung cikuray-papandayan. Kemarin sih kami bayar per orang dengan harga 20K saja. Entah harga nya bakalan naik atau tidak nanti saat teman-teman baca tulisan ini saya juga tidak tahu. Sampai ditempat itu, kami sholat terlebih dahulu sembari “mengenalkan” badan kami dengan hawa gunung yang jarang kami temui di Jakarta. Kami makan pagi bersama, siap-siap barang yang ada di dalam ransel kami masing-masing, melengkapi perbekalan dahulu, ke pasar dan ke minimarket yang dekat (stttsstt, jangan ceritain ke siapa-siapa ya ternyata di tempat perkemahan gunung papandayan banyak sekali warung makanan.. hahahaa), jadi saran saya jangan bawa banyak-banyak makanan ya, karena akan memberatkan.

Oke fix setelah siap semua nya, kita jalan ke atas. Sebenernya ngga juga sih, kita naik pickup bak terbuka untuk sampai k epos perijinan pendakian untuk dapetin SIMAKSI. Kali ini kami masing-masing membayar 15K untuk transportasi ini.

IMG_20151212_065721
Credit by @HapeDimas

Perjalanan kami lanjutan, perlahan-lahan naik keatas. Perut buncit bukan halangan kami untuk terus naik, cuman menjadi PENGGANJAL kami semua untuk bisa bernafas lancar..hahaa

Subhanallah, padahal masih pagi pikirku apa yang disajikan sang Kuasa melalui Papandayan begitu indah luar biasa. Saya melihat langsung bagaimana itu kawah belerang mengebul-ngebul asapnya, baunya memang keman-mana sih. Cuman memang sangat menakjubkan sekali, ada beberapa lubang kawah yang menyemburkan asap yang keliatannya sangat panas.

Credit by @HapeBijak
Credit by @HapeBijak

Sunguh-sunguh sangat menakjubkan sekali apa yang ada di hadapan kami saat ini, ciptaan sang kuasa yang LUAR BIASA indah sekali. Beneran nih, buat temen-temen yang belum pernah ke papandayan, coba deh main kesana. Kalian akan tahu maksud tulisan saya ini.

Setelah kawah asap ini, kami sengaja memotong melewati jalur hutan mati seharusnya kami melewati jalur normal yang sudah disediakan. Untungnya kami bisa kembali dengan selamat, tidak tersesat dan bisa membuat tulisan ini. Jangan lewat Hutan Mati, kalau memang tidak ada yang mengetahui jalur nya, dijamin nanti bisa bingung. Tapi saya juga tidak mau berbohong, lewat jalur ini tidak kalah menakjubkan dari sebelumnya. Keunikan sebuah Hutan yang tidak ada daun nya, batang berwarna hitam dengan tanah berwarna putih bagai sebuah kawasan yang tak berpenghuni bahkan untuk seekor laba-laba sekalipun. SUNYI sekali, sepertinya cocok untuk membuat puisi di tempat ini. tapi ternyata saya salah, ada tempat lain di Papandayan yang lebih cocok untuk menulis puisi, lebih menenangkan, indah, luas sekali.

Credit by @HapeBijak
Credit by @HapeBijak

Okee brleett, bleerrtt wuih lompat kesana kemari akhirnya jalan nya agak meninggi lagi dan bablas dikit sampailah kami di tempat camping ground, nama nya PONDOK SALADA. Ditempat ini tempat untuk membuat tenda, meletakkan barang-barang dan waktunya makan gorengan plus mie rebus di warung-warung pondok salada.

Ditempat ini teman-teman bisa ngapain aja. Mau main kartu bisa, mau mandi silahkan, mau sholat ada musholla, mau makan warung 24/7 siap, mau apa aja di tempat ini sudah diberikan fasilitas yang lengkap pokoknya. Kami berempat putuskan istirahat, tidur nyenyak hingga matahari sore terbenam, diiringi rintik hujan dari dalam tenda kami. Hoaaaammm

Sholat udah, makan malam udah, minum kopi bereeess !! kenyang, hangat siap untuk istirahat malam. Sudah pukul 22.00 WIB. Hujan terus dari siang hari hingga malam, membuat kami semua pendaki yang ada di pondok salada menikmati kehangatan antar sahabat di tenda kami masing-masing. Hoaaaaamm

Beerrrr,,brrrr,,,adduuhh dinggiin..brrrrr… fiz..fizz bangun fiz kenapa kamu, huft…dingin bangeet broh. Badan saya menggigil ga karuan. Serius tengah malam ini dingin, kami cek di luar tenda masih hujan cukup lumayan lebat sekali. Yaudah fix, kita di tenda biki susu jahe bikin perapian yang bisa menghangatkan badan. Huft, Alhamdulillah sedikit hangat, paling tidak kami bisa melanjutkan tidur kami. Karena pagi besok kami harus buru-buru mencari sunrise !!!

Wiussss, anginnya luar biasa !! luar biasa dingin, yok sholat subuh, lalu beres-beres diri sebentar lalu berangkat !

Credit by @HapeDimas
Credit by @HapeDimas

Oke fix, keren sekali pagi ini !! indah banget sunrise pagi ini, Alhamdulillah pagi ini tidak hujan dan menyenangkan sekali karena bisa melihat sunrise yang begitu indah seperti pagi ini. setelah puas melihat sunrise kami balik ke tenda kami, sarapan pagi dan bersiap untuk menuju puncak.

Pukul 08.00 WIB kami sudah siap untuk berjalan ke puncak, cukup daypack dan kamera doing kami naik ke atas, lagi-lagi kami pilih jalur lain tidak seperti pendaki yang lain. Kami potong jalur, dan luar biasa sekali kami melewati jalur yang tidak banyak dilalui banyak orang.

Credit by @HapeBijak
Credit by @HapeBijak
Credit by @HapeBijak
Credit by @HapeBijak

Itu foto teman saya, BIJAK namanya sama seperti sifat dan wataknya, bijak sekali dia. Dan coba perhatikan bulat-bulat kecil dikejauhan yang berwarna warni itu, itulah camp groun pondok salada yang kami foto dari kejauhan. Indah Bukan ???

Cuman ini ?? nggak ! selepas perjalanan ini kami bertemu dengan padang edelweiss yang sangat cantik sekali. Sayang nya tidak semua daunnya bermekaran, seharusnya andaikan teman-teman berangkat di musim panas pasti indah sekali padang edelweiss ini.

Padang Edelweis Credit by @HapeDimas
Padang Edelweis Credit by @HapeDimas

Iyaaaaa, itu padang edelweiss yang kami lewati. Buaaanyaak sekali bukan ??? seandainya waktu itu sedang bermekaran, bayangkan indah sekali melewati lokasi ini. tapi bukan padang edelweiss yang ini yang saya maksud untuk menulis puisi yaaa, ada lagi yan lebih luat ternyataaa..hahaa

Dan tara, setelah tempat ini kita lanjut kan sebelum ke puncak kita melewati padang edelweiss yang sangat luas sekali. Yaaap betul sekali tempat itu namanya TEGAL ALUN. Luasnya bukan main, dan subhanaallah tempat ini sangat indah sekali.

Tegal Lega Credit by @HapeDimas
Tegal Lega Credit by @HapeDimas

 

Tegal Lega Credit by @HapeDimas
Tegal Lega Credit by @HapeDimas

Naaah ini dia setelah Tegal Alun, barulah kita akan berjalan keatas menuju puncak, paling tidak untuk sampai ke puncak dari pondok salada menuju ke puncak papandayan butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit. Ini waktu yang lebih cepat daripada harus melalui jalur normal yang butuh waktu hingga 3 jam an.

Setelah semua selesai,puncak tempat tujuan kami tercapai. Semua lelah ini terbayarkan akan keindahan luar biasa yang dihadirkan Tuhan melalui Papandayan.

Saatnya kami kembali untuk pulang ke Jakarta, ada teman baru, pengalaman baru, dan tentunya rasa di hati kami yang baru.

Terimakasih PAPANDAYAN !!! kamu salah satu anugrah indah yang Tuhan ciptakan di Bumi Sunda ini

Mari bersama kita JAGA ya alam yang dititipkan anak Cucu kita ini J

Salam Lestari,

Diketik di Meja Kantor di Jakarta yang “dingin”

Meninggalkan jejak, melukiskan harap, menghadirkan tawa

inget semua Titipan Credit by @HapeDimas
inget semua Titipan Credit by @HapeDimas

2 thoughts on “Perjalanan Hati Part ke sekian – Gunung Papandayan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s