Selamat pagi ! mau duit nya atau bahagia nya, kamu yang tahu


Pagi-pagi disela menikmati dinginnya Air Conditioner di kantor, saya sempatkan untuk blogging, baca-baca berita online, atau sekedar ngepoin hal-hal yang ga penting sama sekali. Ya pokoknya gimana pagi hari di manfaatkan untuk mendapatkan asupan otak yang baik. Eits tapi terkadang ngepoin hal-hal yang ga penting kita malah dapat ilmu baru, contohnya kita ngepoin berapa sih Kurs Rupiah terhadap Dollar hari ini padahal kita sama sekali nggak punya dollar.

Pasang earphone sambil dengerin Braveheart Theme nya William Jackson bener-bener menggugah hati di pagi ini. By the way, saya pengen ngomongin tentang pekerjaan pagi ini. Setiap hari di semua sisi dunia sadar atau nggak kita akan temukan orang-orang sudah pada keluar dari rumah masing-masing untuk mendapatkan uang. Uang membuat banyak orang (termasuk saya) harus rela bangun pagi-pagi keluar rumah dan berangkat kerja. Uang juga yang membuat banyak hal di dunia ini menjadi sesuatu yang di”dewa”kan. Okelah, semua orang memang butuh uang, semua orang butuh untuk menghidupi diri mereka masing-masing. Entah butuh untuk membeli rumah, membeli kendaraan, pulsa handphone, bahkan sekedar buang air kecil semuanya butuh uang.

3 tahun yang lalu saya datang ke Jakarta, niat di hati adalah bekerja untuk mendapatkan gaji yang cukup. Cukup untuk tabungan haji, cukup untuk memberangkatkan haji orang tua, cukup untuk beli rumah, cukup untuk ngajak orang lain menemani sepanjang hidup hahaa terlalu banyak ya *apalagi ya. Dan dengan niat tidak hanya soal uang saya niatkan diri berangkat ke Jakarta.

Sehari-dua hari-seminggu-dua minggu-sebulan dan akhirnya saya menemukan bahwa kebanyakan dari mereka (orang-orang yang bekerja di Jakarta) kebanyakan adalah orang-orang pendatang. Mereka mungkin memiliki cita-cita seperti saya saat datang ke kota ini atau bahkan mungkin cita-cita mereka lebih mulia daripada saya.

Saya ini orangnya suka memperhatikan orang lain, bagaimana orang lain bersikap, bagaimana orang bertindak atas respon yang diterima dari lingkungannya dan lain-lain. Sudahlah ya, saya tidak ingin membahas hal ini sekarang, mungkin lain tulisan nanti saya akan bahas. Selama saya di Jakarta, saya sering sekali memperhatikan para pegawai rantau ini. Jujur ini penilaian dari saya pribadi, yang saya temukan adalah mereka (pekerja rantau) ini mengalami perubahan watak. Dari yang dulu nya kalem berubah menjadi agak keras, yang dulunya keras sedikit melunak tanpa mengurangi kekerasannya. Sepertinya hal ini pasti “bahwa ibu kota merubah siapapun”.

Selain itu, saya perhatikan juga raut wajah mereka di pagi dan sore hari. Karena selama 3-4 bulan pertama di Jakarta saya menggunakan transjakarta, sekarang syukur sih ada motor. Selama berada di transportasi umum itu saya perhatikan wajah mereka ini. Sepertinya mereka itu adalah karyawan yang menunggu gajian yang telat masuknya. Hal ini saya perhatikan setiap hari, iya betul setiap hari saya perhatikan rata-rata raut wajah mereka mendung, suram dan sedih. Coba deh, perhatikan kalau kamu ke Jakarta. Jalan lah di pagi hari dan sore hari ya. Saya bertanya, kenapa sepertinya mereka tidak bahagia, padahal gaji mereka ya lumayan lah ya.

Nah sepertinya ini yang menuntun saya sangat menikmati tulisan dari teman saya di blog nya https://alifiadia.wordpress.com/2015/11/11/money-and-happiness/. Tulisan yang di bagikan dari kang arief setiawan kiming ini ditulis ulang oleh kawan saya di dalam blog ini. Terimakasih lif, sangat menginspirasi tulisan yang kamu bagikan ini.

“Don’t trade away your happiness now to earn money in hopes that if you make enough you’ll be able to buy it back later. You can’t!”.

Saya pun masih belum bisa menemukan “happy” dalam kesempatan berjalan beriringan dengan pekerjaan saat ini. Mungkin begini juga yang dirasakan oleh para karyawan yang ada di Jakarta. Mereka belum menemukan kesempatan untuk memanfaatkan waktu yang mereka punya dengan lebih priceless. Di dalam tulisan ini diceritakan ada karyawan dari perusahaan oil and gas yang rela untuk menukarkan waktu yang dimiliki nya saat bekerja di perusahaan dengan mengikuti passion nya di bidang memasak. Rela menukar waktunya dengan kesempatan bertemu keluarga selama 24/7.

gambar di dapat dari : https://alifiadia.wordpress.com/2015/11/11/money-and-happiness/
gambar di dapat dari : https://alifiadia.wordpress.com/2015/11/11/money-and-happiness/

Teman-teman semua yang saat ini bekerja dimanapun berada, yang jauh dari keluarga, yang belum menemukan ke”happy”an di dalam setiap pagi,siang,sore dan malamnya. Sempatkan walau sedikit waktu untuk menghubungi keluarga yang engkau tinggalkan demi uang. Sempatkan untuk membaca buku-buku yang bisa menumbuhkan daya nalar mu. Sempatkan untuk membuat lingkaran-lingkaran baru dalam lingkungan sosialmu. Agar suatu waktu nanti, tidak hanya uang yang kalian dapatkan. Yok sama-sama kita ikuti passion yang kita miliki. Karena Money can’t buy happiness ! . Sama kok, saya juga masih belajar🙂

Selamat meng-upgrade diri menjadi lebih-lebih dan lebih baik. Mari temukan kebahagiaanmu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s