Dear, Gunung Gede 2958 Mdpl


Dear, Gunung Gede Pangrango

 Halo Gunung Gede kupanggil kamu dengan sebutan Ge yaa biar kita lebih akrab. Kenalkan aku hafizh Ge, oia aku baru tahu ternyata tinggi puncak mu 2958 Mdpl (meter diatas permukaan laut) ya. Oia, kemarin sempat mengobrol dengan para pendaki dari YSI (Yayasan Survivor Indonesia) kalau kamu berdampingan dengan saudara mu yang namanya Gunung Pangrango dan memiliki tinggi 3019 Mdpl ya. Lalu kata mereka lagi masing-masing kalian punya kemiripan, kamu punya padang edelweiss yang namanya alun-alun surya kencana, kalau saudara mu itu punya padang edelweiss yang namanya lembah mandalawangi, benar tidak ? karena kemarin kami hanya melihat padang edelweiss milikmu dari atas puncak, kami belum sempat untuk mengunjungi lembah mandalawangi milik saudara mu itu.

Kemarin kami tiba pada hari jumat pukul 11.43 dari pintu kedatangan cibodas (cianjur), kami memutuskan untuk masuk dari jalur ini karena yang kami dengar jalur pendakian dari pintu ini lebih ringan dibanding pintu gunung putri (bogor) dan salabintana (sukabumi). Maklumin ya karena kebanyakan dari kami termasuk saya masih pemula. Nafas kami saja masih suka terengap-engap padahal baru jalan sekian puluh meter saja, keringat kami sudah bercucuran padahal udara malam hari di kaki mu itu dingin sekali.

Hari jumat malam sengaja kami pilih Ge, karena pendakian malam hari menurut kami lebih nyaman. Kami satu tim terdiri dari 7 orang, ada aku, akbar, yulia, arif, gustaf, seri, dan mas ibnu. Masing-masing kami membawa tas carrier yang cukup besar Ge, di dalamnya kami siapkan matras, sleeping bag, nesting, tenda, lampu senter, buku tulis, bolpoin, kompor, baju hangat, sweater, kupluk, sarung tangan, kaos kaki, sandal, perlengkapan makan, dan banyak sekali cemilan, bahan makanan mentah dan air minum. Banyak ya Ge, maklum kami masih belum terbiasa berada di alam luar hehee. Sekitar pukul 12.48 kami jalan Ge ke pos polisi hutan yang menjaga mu tetap lestari dan asri, di tempat itu kami diberi briefing Ge, ada beberapa hal yang diberitahukan kepada kami untuk menjadi perhatian kami. Kami diminta untuk berhati-hati karena banyak batuan yang licin, kami juga diminta untuk memakai sepatu bukan sandal karena ini demi keselamatan kami sendiri, kami diminta untuk membawa sampah kami agar tidak mengotori punggung mu, dan kami diminta untuk ikut turut serta menjaga mu, perhatian mereka kepadamu sungguh besar Ge.

Huft, satu jam kami berjalan baru sampai di shelter Telaga Biru. Di depan shelter ada aliran air tidak terlalu besar sih namun cukup jika untuk isi ulang air minum atau untuk kebutuhan membuat secangkir kopi, kebetulan persediaan air minum kami masih penuh Ge, jadi di shelter tersebut kami istirahat sebentar sambil mengobrol dengan teman-teman yang baru saja kami kenal. Setelah sekitar 10 menit kami putuskan untuk lanjutkan perjalanan hingga kami bertemu pertigaan menuju ke air terjun cibereum.

Jpeg
Jembatan Rawa Gayonggong

Jujur malam itu kami lelah sekali Ge, karena perjalanan kami dijalan tadi macet. Tapi tetap kami putuskan untuk lanjutkan perjalanan hingga bertemu shelter rawa denok 1, di shelter ini Ge mata dan tubuh kami mulai lunglai terasa sedikit berat untuk bisa melanjutkan perjalanan kami. Karena sudah pukul 2.40 pagi akhirnya kami bermalam di shelter ini Ge hingga pukul 6.35 pagi.

rawa denok 1 - 2
Shelter Rawa Denok 1

Di shelter ini kami mendirikan 1 tenda Ge, 4 orang tidur di dalam tenda sisanya 3 orang yaitu aku, mas ibnu dan akbar tidur di dalam shelter menggunakan matras. Dingin sekali Ge, hahaa ini karena kita belum terbiasa mungkin ya. Pagi pukul 5.30 kami bangun dan keren sekali sambutan kicauan burung pagi hari itu Ge, kami bersyukur sekali.

Sejenak kami sembari packing, makan cemilan, bikin air panas sebelum kami bersiap berangkat kembali. Banyak pendaki yang berjalan melintasi kami di pos ini, dan sambutan hangat mereka menyapa kami “mari kang”, “mari bang”, “duluan mas”, “ketemu di puncak a’ “. Menambah semangat kami untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan pertama kami sebelum puncak, yaa Kandang Badak. Semangaat..

Dari Rawa Denok 1, kami melanjutkan perjalanan melewati pos Rawa Denok 2 hingga di shelter Batu Kukus 1, kami istirahat sejenak dan melanjutkan perjalan ke shelter Batu Kukus 2 hingga tiba di Shelter Air Panas. Di Shelter Air Panas kami istirahat lagi, agak jauh perjalanannya Ge, karena waktu itu sudah menunjukkan pukul 11.35 kami putuskan untuk beristirahat sembari menunggu sholat duhur di shelter ini. Sejuk sekali, oia ada yang seru sebelum kami memasuki shelter air panas, kami melewati semacam aliran sungai yang ada air terjun air panas nya. Huwwwii, kami meniti jembatan yang aduhai air nya lumayan panas jika terkena kaki kami Ge. Seru sih, kami sampai harus berpegangan dengan seutas tali yang dipasang agar kami tak tergelincir dan masuk ke dalam jurang. Huft, seru dan menegangkan melintasi jembatan ini.

Jpeg
Jembatan air panas
air panas 3
shelter air panas
Jpeg
manteb kan..

Dari shelter air panas kami melanjutkan perjalanan lagi, sekitar pukul 13.23 kami melanjutkan perjalanan kami kembali. Kami dapat info bahwa Kandang Badak sanggup di tempuh tidak lebih dari 2 jam, dengar info itu kami kembali semangat dan berharap segera sampai di Kandang Badak agar kami dapat langsung beristirahat. Dalam perjalanan kami melewati shelter Kandang Batu, karena sudah membaca ada shelter menggunakan kata Kandang kami berpikir kalau Kandang Badak sebentar lagi akan sampai, ternyata belum Ge kami harus melewati shelter Panca Weuleuh. Huft disini kami mulai pesimis dan merasa masih sangat jauh sekali perjalanan menuju Kandang Badak.

Sepanjang perjalanan kami selalu berpapasan dengan pendaki lainnya, dan unik nya mereka ada yang menyalakan musik, foto-foto dan bercanda gurau dengan tim nya serasa mengurangi letihnya perjalanan menuju ke puncak. Sebanyak yang aku denger ya Ge, lagu-lagu yang mereka putar lagu-lagu nya dari GIE, slank, dewa, dll pokoknya lagu yang bikin semangat,klo lagu-lagu nya GIE mungkin mereka terinspirasi GIE kali yaa karena GIE kan suka sekali main ke tempatmu ini kan GE.

Akhirnya Ge aku terpisah dari rombongan jalan sendiri ke arah Kandang Badak, berharap sampai disana duluan agar bisa istirahat agak lama, karena di tim ada anggota tim yang sedang mengalami sakit pada pergelangan kaki. Jadi aku putuskan aku ke harus sampai Kandang Badak terlebih dahulu agar dapat tempat untuk mendirikan tenda, karena waktu itu ramai sekali Ge para pendaki yang sedang naik gunung. Hingga sampailah aku di Kandang Badak Ge pada pukul 16.23, lumayan perjalanan 2 jam dari shelter air panas. Cari-cari di kandang badak posisi buat tenda susah sekali waktu itu, kebetulan akbar menyusul sampai di Kandang Badak, akhirnya kami berdua mencari lokasi yang sesuai dan menemukan lokasi yang dekat dengan mata air, kebetulan sekali ada pendaki yang akan turun jadi kami menunggu mereka sembari membereskan tenda dan bersih-bersih lokasi.

Jpeg
Hutan sekitar Kandang Badak

Waktu sore lapar sekali sambil menunggu kami masak nasi, lauk dan air. Barulah setelah itu kami mendirikan tenda kami, mengambil air, beberes dan persiapan makan sore di gabung makan malam. Kabut pun turun di Kandang Badak, dingin namun sejuk Ge. Kami bersantap melahap makanan yang telah kami buat dan dihidangkan oleh 3 chef hebat sore itu. Perut kami kenyang, kami lanjutkan untuk sholat, dan menyiapkan bekal untuk persiapan summit ke puncak dini hari nanti. Kami merencanakan untuk naik ke puncak pukul 01.00 dini hari, karena kami ingin mendapatkan sunrise dari puncak Gunung Gede.

Triitt..triit..triiitt.. alarm berbunyi pukul 00.00 malam ini dan membangunkan kami di tenda hijau, kata pertama yang saya ucapkan ketika bangun adalah “gilee ini dingin banget”, gemetaran badan ini tengah malam seperti ini bangun di punggungmu Ge. Luar biasa dinginnya, keluar tenda pun berasa seperti di eropa dari mulut kami keluar asap saat kami berbincang hrrrrttt….

“oke siapkan senter, sweater, jaket, sarung tangan. Siap kita muncak pagi ini !!! “, “SIAAP”. Kami pun berjalan keluar Kandang Badak, sampai kami merasa kami lah tim pertama yang berjalan dulu ke arah puncak pagi ini. Jalanan terus menanjak, sambutan batu, pasir, udara dingin tak henti menyapa jalan kami. Hingga kami bertemu persimpangan tertulis, “jalur alternatif” dan kami putuskan kita lewat jalur normal saja biar berasa kita pendakian ke puncak Gunung Gede *gaya.

Yaap tepat sekali, kami sampai di tanjakan rante Ge, kalau pendaki lain menyebut ini tanjakan setan. Mau gimana lagi tanjakan ini terlihat miring hampir 90 derajat di malam hari, menaikkan adrenalin kami dan menantang kami untuk bisa melewati tanjakan ini yang akhirnya kami tahu di siang hari jika sebetulnya tanjakan ini tak sesulit apa yang kami liat di malam hari Huft..

“awas, akar sebelah kiri goyang jangan di injak” aba-aba mas ibnu, “awas batu nya ga kokoh” aba-aba akbar, mereka berdua yang lebih dulu naik untuk memastikan pijakan kami ke atas aman. Setapak demi setapak kami lalui hingga akhirnya sampai di ujung tanjakan rante ini.

Kami pikir kami sudah sampai di puncak, kami senang luar biasa namun ternyata bukan nya puncak Gunung Gede yang kami temui, kami temui masih barisan pepohonan yang rapat dan rimbun sekali. Huft, masih jauh ya ke puncak *keluh kami.

***skip perjalanan (pokoknya banyak batu, akar melintang, debu, dingin, dan jalan berkelok)

Sampailah kami di puncak Gunung Gede, kami terus nanjak sampai benar-benar menemukan bendera merah putih dan tulisan puncak Gunung Gede. Sampailah kami di atas, dan menunggu sunrise pagi itu menyambut kami. Ditemani sang kabut, kami sadar bahwa keagungan sang Maha Pencipta memang luar biasa indahnya. Kami tertegun 1-2 menit karena keindahan ini, dingin memang, lelah, tapi semua terasa terbayarkan. Indah sekali Ge pemandangan dari puncakmu ini, di atas puncak ini kami melihat 3 kota, yaitu kota Bogor, Cianjur dan Sukabumi.

Sunrise
Sunrise

Ge, terimakasih ya karena engkau telah sambut kami dengan baik ke tempat ini. Terimakasih karena dari perjalanan ini banyak pelajaran yang kami petik. Banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab serasa kami temukan jawabannya disini. Kami tahu kenapa banyak orang yang rela untuk ber lelahan, kedinginan, dan lapar hanya untuk mendaki gunung. Terimakasih Ge, kau telah mengajarkan banyak hal kepada kami, terutama kepadaku.

Jpeg
Puncak Gede

Kami turun kembali melalui jalur cibodas, dan mengakhiri perjalanan tiba di pos pendakian pukul 17.05 wib. Kembali ke Jakarta dan melanjutkan rutinitas kami masing-masing. Tapi pembelajaran darimu Ge, telah mengilhami kami bahwa keagungan sang Maha Pencipta memang luar biasa indahnya, alangkah bersyukurnya kami Ge yang pernah menuju puncak mu, dan menikmati anugrah Tuhan dari puncak yang indah ini. Terimakasih Gede Pangrango, keindahanmu adalah jawaban sang Pencipta dari semua pertanyaan hidup yang kita miliki. Lestari terus Ge, besok-besok aku akan main kesana lagi, rasanya aku ingin menyambangi saudara mu Pangrango dan Mandalawangi nya.

Terimakasih Ge, 2958 Mdpl

Kami ber-7 di puncak Gunung Gede
Kami ber-7 di puncak Gunung Gede

Diketik di Jakarta, terinspirasi dari perjalanan Gunung Gede 12 – 14 Juni 2015

Ahmad Taufiqul Hafizh –

Terimakasih :)
Terimakasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s