Saat Pendidikan (perlu) Diperbaiki


“Bunga mawar tidak mempropagandakan harum semerbaknya, dengan sendirinya harum semerbaknya itu tersebar di sekelilingnya.” Soekarno

Masa ini telah tiba kembali, dimana sebuah pergulatan dan perhelatan hebat akan di perjuangkan untuk dituntaskan, dimana mimpi harus dikeluarkan dari ladang kenisbian. Teruntuk kamu yang sedang merasa baru dan merasa tak berteman dengan alam. Sabarlah..

Alhamdulillah, segala puji hanya untukMu ya Allah, Tuhan semesta alam yang mana dengan rahmat dan hidayahMu kami dapat merasakan nikmatnya berilmu, kami dapat merasakan indahnya alamMu, kami dapat mempererat tali kekeluargaan yang Engkau haturkan pada kami. Ya Rab, sungguh nikmat segala karuniaMu ini…

gambar berasal : (http://happynature.files.wordpress.com/2011/04/ilmu2.jpg)

Dalam pengertian yang sederhana, pendidik adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik, sedangkan dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat – tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di mesjid, di surau/musala, di rumah, dan sebagainya.

(http://fatamorghana.wordpress.com/2009/04/15/pendidik-dan-peserta-didik/)

Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat.

(http://atmojo3.blogspot.com/2009/12/pendidik-dan-tenaga-kependidikan.html)

Pendidik atau guru adalah orang tua kedua bagi anak didiknya. Mau tidak mau para pendidik juga berperan besar mewarnai seorang anak. Anak laksana kertas putih yang secara fithroh bersih, suci dan orang tua serta gurulah yang berperan besar untuk mewarnai anak menjadi merah, hijau, kuning, atau perpaduan warna lainnya.

 (http://muslimah.or.id/pendidikan-anak/jadilah-sang-pendidik.html)

Terkadang kita sering lupa bahwa secara leksikal arti dari pendidik adalah adalah orang yang mendidik. Sedangkan dalam bahasa saya, menjadi seorang pendidik adalah menjadi panutan, bagaimana mungkin kita akan mengajarkan seseorang untuk minum dari sebuah gelas apabila kita sendiri selalu minum dari botol susu.

Dalam hal memberikan pendidikan pastilah ada yang dinamakan pendidik dan yang dididik. Kedua hal yang selalu berkaitan dalam proses pendidikan. Keberhasilan sebuah pendidikan juga dapat dilihat dari kualitas pendidik maupun kemauan yang dididik. Ketika keduanya tidak pernah menemukan satu alur hati yang sama, maka tidak akan pernah ada proses penyerapan maupun proses pemberian yang baik.

Untuk menjadi seorang pendidik yang baik, pasti diperlukan sebuah hati besar yang akan dapat memberi lebih. Dan untuk menjadi yang dididik yang baik, maka pastilah diperlukan keihklasan hati untuk menerima yang lebih.

Terkadang kita lupa saat kita berada di salah satu posisi pendidikan. Terkadang kita lupa untuk ikhlas ketika kita menjadi yang dididik, dan terkadang kita lupa juga lupa untuk berhati besar saat kita menjadi pendidik. Alangkah bijaknya, apabila kita dapat berproses yang baik di dalamnya, melakukan yang baik, serta berpikir yang baik.

Ada sebuah cerita menarik ketika dulu awal mula saya masih menjadi seorang mahasiswa, saya tidak menyebutkan saat itu mahasiswa junior maupun senior. Karena menjadi mahasiswa bagi saya adalah saat kita tahu peran dan fungsi kita untuk lingkungan disekitar kita.  Masih ingat betul pagi yang begitu cerah dan indah, di plataran teras sebuah jurusan, saya dan beberapa teman duduk santai menunggu jadwal masuk kuliah. Seperti biasa, tak lepas obrolan kami pagi itu mengenai bagaimana pentingnya sebuah contoh dari dosen. Lama mengobrol ternyata kelas pagi itu dibatalkan karena dosen yang secara mendadak memberikan kabar tidak dapat mengisi. Baiklah,kami mengerti dan kami sadari mungkin saja dosen itu sedang mengalami musibah mendadak atau ada kegiatan yang jauh lebih penting. Singkat cerita kami pulang, keesokan harinya saya coba bertanya kepada teman di jurusan  yang sama dengan dosen tersebut, dia mengatakan bahwa memang sudah lumrah dan wajar mengenai apa yang dilakukan oleh dosen mata kuliah tersebut, bahwa memang sering meninggalkan perkuliahan dengan semaunya sendiri. Tak ayal, betapa meruginya saya mendengar hal itu. Bagaimana mungkin kualitas pendidikan akan menjadi baik ketika salah satu elemen di dalamnya masih tidak dapat berusaha yang terbaik dalam melakukan pendidikan.

Ada juga cerita seperti ini, ada seorang mahasiswa yang dia tahu bahwa ada sebuah peraturan dilarang untuk merokok di lingkungan kampus. Tetapi seperti biasa pula hal itu dilanggar. Entah apa yang melatar belakangi hal itu dilakukan. Tetapi menurut saya, hal itu dilakukan karena dia sudah merasa menjadi mahasiswa yang mana kata orang, seorang mahasiswa sudah memiliki kebebasan dalam hal pemikirannya, sehingga ia tidak menggubris peraturan yang mana memiliki kemashalatan bagi banyak pihak.

Jika kedua cerita diatas berasal dari kisah sang pendidik. Maka ijinkan saya bercerita mengenai yang dididik. Karena keberhasilan dari pendidikan juga ditentukan dari elemen yang didik. Menjadi yang dididik memang membutuhkan keihlasan dalam melaksanakan “hal” terkait pendidikan yang diberikan oleh pendidik. Menjadi yang dididik juga terkadang harus  mau menerima segala hal dan prosesnya. Tetapi hal ini tidak semerta-merta harus dijalankan dan diterima 100 persen, karena jika memang “hal” dan proses pendidikannya tidak baik perlulah ada pengkoreksian terhadap pendidik dan “hal” terkait pendidikannya. Menjadi yang didik, harus mau rela untuk tidak mencibir pendidik dan “hal” yang diajarkan. Karena ada sebuah ilmu jawa yang berkata bahwa menjadi murid haruslah ikhlas dan ridho.

Ada segerombolan mahasiswa sore itu yang berkumpul di lapangan, dengan semangat dan keluguannya serta tak lupa pula rasa ketidak ikhlasannya dalam menerima pendidikan. Mereka saling bercerita dan mencibir pendidik-pendidik yang menurut mereka salah dalam menyampaikan “hal” terkait pendidikan. Saya heran, kenapa mereka tak langsung mengatakannya secara terus terang kepada pendidik mereka ? apa karena memang ada rasa takut ? apa memang masih malu-malu ? atau memang mereka ragu dengan apa yang mereka cibirkan ?

Kualitas pendidikan memang ditentukan dari 3 aspek. Kualitas tenaga pendidiknya, kualitas “hal” yang akan diberikan, dan kualitas ikhlas dari yang di didik. karena jika kita ingin menghasilkan lulusan pandidikan yang berkualitas maka perlulah kita merubah sesuatu yang salah terkait 3 aspek diatas.

Hal yang perlu kita ingat bersama adalah menjadi bagian dari pendidik dan yang di didik bukan lantas menjadikan kita sombong ataupun menerima begitu saja. Saya rasa masih perlulah kita memikirkan untuk apa kita melakukan itu semua, untuk apa kita melakukan pendidikan, untuk apa kita mau di didik, dan untuk apa “hal” terkait pendidikan ini untuk kita ?

Saatnya membuka mata, membuka hati, dan membukan pikiran. Bahwa menjadi ‘berarti’ itu bukan harus menjadi seseorang yang sombong dengan segala kemewahan yang dimiliki. Menurut saya, bahwa menjadi ‘berarti’ itu adalah saat kita bisa memberi lebih, menerima ikhlas, dan berpikir cerdas.

Semoga sedikit tulisan ini dapat menjadi bahan renungan bagi saya sendiri maupun bagi anda tenaga pendidik dan yang di didik , bahwa ternyata melakukan yang terbaik bukanlah jalan yang keliru. Melakukan yang terbaik adalah dimana saat kita menjadi yang di didik kita dapat ikhlas menerima, dan saat kita menjadi pendidik kita dapat memeberi lebih serta memiliki hati yang besar.

Best regard,

–          Ahmad Taufiqul Hafizh –

5208.100.026

Bagian ke-26 8IoS (my lovely family)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s