Man jadda wa jada (kisah negeri 5 menara-novel yang di film kan)


“man jadda wa jada”, teriakan 6 bocah kecil di dalam kelas pertamanya di pesantren madani. Sang guru waktu itu membawa sebuah pedang yang lumayan besar namun berkarat, dan seorang murid bertanya “pak, berkarat”, namun sang guru malah menggunakan pedang tadi untuk memotong kayu yang cukup besar. Berulang-ulang kali sang guru berusaha memotong kayu hingga akhirnya kayu itupun terbelah, ada pelajaran yang beliau sampaikan untuk muridnya melalui pedang berkarat itu. “bukan yang paling tajam, namun yang bersungguh-sungguh”, bukan yang menempel pada dirinya atau bukan apa yang dimiliki, tapi siapa yang bersungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu, maka dapatlah ia untuk melakukan hal tersebut dan akan berhasil.

Film ini diangkat dari novel negeri 5 menara yang di ciptakan oleh A.fuadi, sebuah kisah nyata tentang perjalanan hidup beliau dimasa mudanya. Beliau dan 5 orang temannya yang memiliki cita-cita untuk berkeliling dunia, dan ikrar itu mereka lantangkan di bawah menara sani di pondok pesantren madani. Ada yang bercita-cita berkunjung ke inggris dan menyampaikan salamnya kepada kerajaan inggris, ada yang bercita-cita ke mesir untuk dapat sekolah ke al-azhar, ada yang memiliki mimpi untuk dapat amerika, ada yang memiliki mimpi ke afrika, dan ada yang memiliki mimpi untuk tetap berada di Indonesia.

Baso berdiri dan berkata, “disetiap daerah tadi ada menara-menaranya, oke kita akan wujudkan itu dan kita akan bertemu kembali disini lagi serta membawa foto kita bersama menara masing-masing, MAN JADDA WA JADA”. Ternyata perjalanan itu tak mudah, Baso harus kembali ke kampung halaman nya di daerah GOWA, Sulawesi dikarenakan orang tua nya yang telah tiada dan neneknya yang hidup sendiri, itu yang membuatnya harus kembali lagi ke kampungnya.

Singkat cerita alif dan teman-teman nya berhasil mengunjungi 5 menara di belahan dunia yang telah mereka impikan. Dan mereka telah berhasil untuk menjadi orang besar. “tahukah kau apa itu orang besar nak ?” kata pimpinan pondok pesantren di malam penyambutan siswa baru, “tahukah kau apa itu orang besar nak ?”, “orang besar itu bukan dilihat dari jabatan apa yang kamu raih, bukan seberapa banyak harta yang kamu miliki, namun orang besar itu adalah siapapun dari kamu yang keluar dari pondok pesantren ini dan dapat memberikan kebermanfaatan yang banyak bagi sekitarmu, entah di kolong jembatan, di bukit-bukit gunung negeri ini, di daerah pelosok dan dimanapun kamu berada”

Pemeran dan Pemain Film Negeri 5 Menara diantaranya :

Gazza Zubizzaretha sebagai Alif (pemeran utama)

Ernest Samudera sebagai Said

Billy Sandi sebagai Baso

Rizki Ramdani sebagai Atang

Aris Adnanda Putra sebagai Dulmadjid

Jiofani Lubis sebagai Raja

Ikang Fauzi sebagai Kiai Rai

Selain Film Negeri 5 Menara diperankan pula oleh Doni Alamsyah, Andhika Pratama, David Chalik, Inez Tagor, Mario Irwinsyah hingga pendatang baru seperti Eriska Rein dan Merayni Fauziah yang ikut berperan dan menjadi pemeran dalam film ini.

Sangat banyak cerita yang saya dapatkan dari film negeri 5 menara yang berdurasi sekitar 2 jam. Ada beberapa catatan saya yangdipetik dari film ini diantaranya :

Saya belajar mengenai keikhlasan, dimana ketika sang alif harus ikhlas bersekolah di pesantren madani,

Saya belajar tanggung jawab, dimana ketika seorang ibu membungkus kan anaknya rending asli padang, dan sang ayah yang menghantarkan alif menuju pondok pesantren madani bahkan menunggui nya hingga pengumuman kelulusannya dari tes masuk.

Saya belajar arti saudara, saat dimana BASO harus pulang kembali ke kampung halamannya di GOWA dan itu meninggalkan kenangan yang sangat berarti sekali bagi saudaranya yang lain

Saya belajar mengenai kebijaksanaan, saat dimana sang ibu mengirimkan surat pernyataan kepada pihak sekolah untuk merestui kepindahan putranya, seraya berkata “tempat belajar memang penting, tapi lebih penting lagi kesungguhan hati yang kau miliki nak”

Saya belajar keberanian dan berinovasi, saat dimana 6 orang anak mencoba untuk memberikan sentuhan inovasi pada generator agar dapat dibawa kemana saja saat dibutuhkan

…dan sesungguhnya masih banyak pelajaran yang dapat dipetik dalam film ini, film ini telah banyak memberikan pelajaran yang bermakna, singkat namun sangat berarti :)

Beberapa quote yang sempat tercatat di dalam catatan note blackberry saya :

-          Percuma mengejek orang kamu itu, orang tua kamu saja tidak kamu dengarkan juga

-          Jalankan dulu nak, baru kamu akan tau mana yang terbaik buat kamu

-          Berjabatlah tangan terlebih dahulu, dan jangan hanya melihat hanya dari luar sarung

-          Bukan menjadi yang paling tajam, tapi yang paling bersungguh-sungguh

-          Taukah kamu apa yang bisa jurnalis lakukan ? Kamu bisa mengubah dunia hanya dengan kata-kata

-          Jadi lif, perempuan jangan dijadikan barang taruhan, nanti kamu hanya akan mendapatkan baju kotor saja

-          tempat belajar memang penting, tapi lebih penting lagi kesungguhan hati yang kau miliki nak

-          man jadda wa jada

–belajarlah tentang ilmu kehidupan, maka kau akan menemukan bahwa dirimu masih harus selalu bersyukur dan berusaha—

#SedikitCatatanFilmNegeri5Menara

#AFuady

#surabayaPlasa,21.35

#SiapaBilangNovelDiFilmKanItuJelek

One thought on “Man jadda wa jada (kisah negeri 5 menara-novel yang di film kan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s